Hmmmm…. Pastinya udah pade tau kan kalu pake jilbab ityu wajib buat perempuan muslimah?? Sama seperti kewajiban shalat yang mesti kita tunaikan saat udah baligh alias beranjak dewasa. Kagak ada istilah nunggu hidayah, nunggu hatinya lebih siap, nunggu kelakuan lebih baik, baru pake kerudung. Kalo nunggu khusuk biar bisa shalat, lha kapan shalat nye?? Ntar keburu maut menjemput, yah tinggal nyesel deh di hari kiamat nanti. Godaan mah ada aja, biar di mal, di gunung, di les, di pantai, di sekolah, di bioskop, ada orang banyak, ada orang gila, ada orang bau (??), ada monyet, kalo sudah tiba waktunya tetep aja sholat wajib, atuh. Kembali ke tantangan berjilbab, saat ini kewibawaan jilbab menuntut kembalinya aturan syar’i berjilbab yang makin lama makin longgar n kedodoran. Banyak yang udah pake jilbab tapi kok bajunya….ketat n tipis, pake jilbab tapi kok rambutnya masih keliatan ngliwir di belakang, pake jilbab tapi kok jilbabnya cekak banget, pake jilbab tapi kok poni nya masih keliatan sih, dan masih banyak ‘tapi kok’ yang lain. Miris banget kan. Padahal ini adalah perintah Allah SWT yang gak main-main dan tentu didalamnya mengandung hikmah yang banyak dan sangat besar. Seperti firman Allah SWT: "Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”.(QS. Al Ahzab:59) Nabi Muhammad SAW bersabda: "Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi) telanjang, diatas kepala mereka (terdapat suatu) seperti punuk onta yg lemah gemulai. Laknatlah mereka! Sesunggunya mereka adalah wanita -wanita terlaknat."(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad(2/33)) Sabda Nabi Muhammad SAW: “Dua kelompok termasuk penghuni Neraka, Aku (sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu seperti orang yg membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia dan para wanita yg berpakaian (tetapi ) telanjang, bergoyang berlenggak lenggok, kepala mereka (ada suatu) seperti punuk unta yg bergoyang goyang. Mereka tentu tidak akan masuk Surga, bahkan tidak mendapat baunya. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian."(HR. Muslim, hadits no. 2128). Hiii…apa gak takut dengan hukuman seperti yang disebutkan hadist diatas?? Nah berikut ini adalah beberapa jawaban dan alasan yang sering terucap dari bibir kaum hawa, saat ditanya “Kenapa kamu kok belum pake jilbab?” 1. “Belum mantep nih” Kalo ada yang alasannya kayak gini, mestinya dia bedain antara Perintah Allah dan perintah manusia. Lha kalo perintah manusia, kita bisa aja ngomong ‘terserah eke, dong, inikan hidup eke’. Tapi ini perintah Allah Galz! tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan ‘saya belum mantap’, sebab dengan begitu ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut. Allah SWT berfirman Allah: "Dan tidak patut bagi lelaki mukmin dan wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah SWT dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al-Ahzab: 36) 2. “Pake jilbab?Gak deh. Kan iman itu letaknya di hati bukan dalam penampilan luar” Emang bener 100 persen iman itu letaknya dihati, but Iman itu tidak sempurna bila dalam hati saja. Iman dalam hati semata tidak cukup menyelamatkan diri dari Neraka dan mendapat Surga. Karena definisi Iman "keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan". Dan juga tercantum dalam Al-Quran setiap kali disebut kata Iman, selalu disertai dengan amal, seperti: "Orang yg beriman dan beramal shalih....". Karena amal selalu beriringan dengan iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. 3. “Ntar deh nunggu Hidayah” Duh yang ini malah lebih parah lagi. Karena bila orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo'akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya sehingga mendapatkan hidayah tersebut. Seperti firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11). Nah kalo cuman duduk-duduk nyante makan kacang sambil nunggu hidayah dateng, tanpa usaha apapun, ya sama aja bodong eh bohong Neng! So Galz, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, Insya Allah kamu mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah SWT. Usaha itu bisa berupa berdo'a agar mendapat hidayah, bergaul dengan teman yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, ikut kajian keagamaan di sekolah maupun di luar sekolah(jangan males lho), dll. 4. “Gak boleh sama ortu.” Nah disini kamu udah tau kalo berjilbab itu wajib sebab perintahnya udah jelas dan bukan sekadar anjuran. Sementara orangtua atau salah satu anggota keluarga ada yang berdalih bahwa akan ada masa kamu untuk berjilbab, dan yang jelas bukan sekarang. Sebenarnya ini murni masalah perbedaan pendapat antara kamu dan keluarga kamu, yang disebabkan karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman mereka, yang kebetulan saja jilbab yang jadi topiknya. Dan tentu saja kamu akan dan udah sering mengalami perbedaan pendapat kayak gini, karena ini merupakan hal wajar dalam kehidupan sosial. Intinya, dengan menunda atau mengurungkan niatmu buat berjilbab, tidak menjamin akan selamanya meniadakan konflik dengan ortu. Inget Neng!berjilbab itu sepenuhnya urusan kamu sama Allah. Saat kamu mutusin untuk berjilbab atawa kagak, itu juga sepenuhnya tanggungjawab kamu sama Allah SWT. Inti kalimatnya eh intinya, bukan ortu, kakak, tante, atau siapapun yang menanggung akibatnya di mahkamah Allah nanti, tapi kamu. Sendiri. Gimana jika kamu takut dicap anak durhaka kalau melawan ortu untuk ‘gak berjilbab’, padahal udah jelas-jelas surga itu dibawah telapak kaki Ibu? Yah emang bener kamu harus berbakti, nurut, santun, dan bersikap lemah lembut pada ortu. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah. Artinya, gugur secara otomatis kewajiban untuk taat seorang istri kepada suami, anak kepada ortu, pada perkara yang berlawanan dengan perintah Allah. Seperti dalam hadits shahih disebutkan: "sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan."(HR. Al Bukhari dan Muslim). Dan sabda Rasul dalam hadist lainnya: "Dan tidak boleh ta'at kepada mahluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada Al-Khaliq." (HR. Imam Ahmad, hadits ini shahih). 5. “Pake jilbab tuh panas, gerah, sumpek” Well, hanya satu jawaban “Mending panas di dunia, daripada panas di neraka” Tapi ya jelas lebih panas di neraka lah yau. Ya iyalah, mana ada yang lebih panas dari neraka? Tapi sebenernya pake jilbab itu gak gerah kok, gak sumpek, gak panas, malahan kerasa adem banget lho, terutama pas lagi kehujanan, hehehe. Anyway busway, tiap pilihan ada resiko, ada cost nya, ada konekuensinya, ada gak enaknya. Kalo kamu takut gerah, kamu bias kok pilih jilbab dadari kain katun, gak berat tapi juga gak tipis hingga leher n rambutmu keliatan. Bisa juga kamu selalu siap sedia kipas di tas, ingat semboyan ‘bawa kipas sebelum gerah”. Pokoknya tiap kali kamu takut ngerasa panas n gerah, kamu inget2 deh alasan kamu pake jilbab. Bukankah supaya Allah rida dan lebih cinta kamu? So, yang belum berjilbab, semoga tulisan ini jadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yg tertidur, sehingga bisa mendorong kamu untuk segera berjilbab. Dan yang udah berjilbab, dengan motivasi berjilbab seperti apapun (dipaksa peraturan sekolah, dipaksa ortu,dll) mari kita syukuri dg melengkapinya dg syariat yg lain.Menjaga kesucian identitas itu dg terus memperbaiki akhlak dan hati. Mari kita jilbabkan diri, jilbabkan hati, dg ikhlas, karena jilbab adalah sebuah aturan perlindungan Allah sbg bentuk kasihsayang Allah trhd kaum wanita. Jika telah berani menolak perlindungan Allah, hendak berlindung kemana lagi?? Hati tempat jatuhnya pandangan Allah, jasad lahir tumpuan manusia. Utamakan pandangan Allah daripada pandangan manusia.